Seorang remaja, sebut saja Nia, tertegun, kikuk, dan serba salah. Dia merasa seperti orang asing di tengah-tengah sekumpulan wanita lain seperti dirinya.
Sebagai seorang muslimah yang sedang mulai melek syariat, dia memang sedang haus-hausnya akan ilmu agama yang lurus. Meski harus berjibaku dengan rasa sungkan untuk hadir di majelis taklim itu, ia paksakan diri juga. Dengan sedikit ragu, ia masuk ke ruangan khusus akhwat, di masjid sebuah ma’had di kotanya.
Setelah dapat duduk dan berbasa basi sebentar dengan kiri kanan, ia mulai konsentrasi menyimak materi. Di tengah kajian, ada semacam kegelisahan berkecamuk dalam jiwanya. Kesejukan hati dari siraman rohani menjadi sedikit terganggu dengan keresahan yang merasuk pelan, menohok perasaan. Keresahan yang bisa disebut sebagai kejanggalan, kenapa di tengah suasana seramai itu, ia justru merasa sendiri ?
Sebagai seorang muslimah yang sedang mulai melek syariat, dia memang sedang haus-hausnya akan ilmu agama yang lurus. Meski harus berjibaku dengan rasa sungkan untuk hadir di majelis taklim itu, ia paksakan diri juga. Dengan sedikit ragu, ia masuk ke ruangan khusus akhwat, di masjid sebuah ma’had di kotanya.
Setelah dapat duduk dan berbasa basi sebentar dengan kiri kanan, ia mulai konsentrasi menyimak materi. Di tengah kajian, ada semacam kegelisahan berkecamuk dalam jiwanya. Kesejukan hati dari siraman rohani menjadi sedikit terganggu dengan keresahan yang merasuk pelan, menohok perasaan. Keresahan yang bisa disebut sebagai kejanggalan, kenapa di tengah suasana seramai itu, ia justru merasa sendiri ?