Friday, August 12, 2011

Kerinduan Wanita Terhadap Surga

Berjuta kegalauan mendera di lubuk hati perempuan itu. Tertatih ia melangkah. Jauhnya jarak, panasnya perjalanan, tidak ia pedulikan. Harapannya hanya satu. Ia ingin pulih. Kepulihan yang membuatnya ringan dalam beribadah. Kesembuhan yang dapat mengakhiri risaunya selama ini.

Untuk itu, satu pintu yang ia tuju. Pintu rumah lelaki paling mulia. Pintu RasuluLlah shallaLlahu alayhi wa sallam.

"Ya RasuluLlah," ujarnya. "Aku mengidap penyakit yang telah lama tak kunjung sembuh. Jika penyakitku itu menerpa, hilanglah kesadaranku. Aku bergerak-gerak tanpa dapat kukendalikan. Dalam ketidaksadaranku, seringkali tersingkap auratku."

Siapa Bilang Ukhty Tidak Cantik ??

Bagi sebagian wanita,
Beberapa orang mungkin mempunyai persepsi beda-beda tentang cantik.
Bahkan ada yang bilang kalau cantik itu relatif. Itu benar.
Tapi saya tambahkan sebait puisi beriku sebagai Motivasi:

Menjadi wanita itu kehendak Tuhan
Menjadi Cantik itu relatif
Menjadi muslimah itu anugrah
Tetapi menjadi muslimah yg sholehah itu PILIHAN !

Bangun Cinta, Bukan Jatuh Cinta

Kata cinta ternyata mengalami dualisme tergantung kepada nuansa hati ketika kata cinta itu terucap. Mari kita simak beberapa kalimat yang berkaitan dengan kata cinta di bawah ini. (Ruang lingkup bahasan cintanya dibatasi antar manusia -sepasang kekasih-red.-, bukan bahasan cinta yang hakiki pada Sang Khaliq).

Ketika orang sedang jatuh cinta, maka kalimat yang bertebaran biasanya seperti ini :

“Cinta itu sejuta rasanya”, “Cinta membuat hidup lebih berwarna”, “Cintalah yang membuatku tetap bertahan”, “Ketika cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”, dan sejuta kata lainnya yang bisa dirangkai dan diucapkan berkaitan dengan indahnya cinta.

Lelaki Penembus Hujan

Aku tak mungkin menyalahkan Alloh. Karena dengan izinNya langit menjadi kelabu. Dengan kuasaNya pula Ia hentakkan gundala di setiap penjuru langit. Lalu, satu persatu jutaan cintaNya jatuh menghujam bumi. Di bawah sebatang akasia aku terperangkap, sebab hujan tak kunjung reda. Tubuhku menggigil akibat mendekap erat sebuah janji. Segenggam kata yang telah kita ikrarkan kala senja tempo hari.

Sebenarnya ingin kutembus saja rinai-rinai hujan ini. Tapi, aku sudah tak kuasa. kakiku seperti tertanam, berat untuk melangkah. Tubuhku serasa beku, karena terus dipeluk hujan sepanjang perjalanan tadi. Benar-benar tak sanggup lagi kukayuh sepeda ini. Kupandangi kembali langit, berharap Alloh lembutkan sejenak bait-bait cintaNya.

Wasiat Seorang Ayah Kepada Putranya

Al-Imam Ja'far Ash-Shadiq rahimahullah berwasiat kepada putranya, Musa. Beliau rahimahullah berkata:

Wahai anakku….
Barangsiapa merasa cukup dengan apa yang menjadi bagiannya maka dia akan menjadi kaya  dan barangsiapa memanjangkan pandangannya kepada apa yang ada di tangan orang lain niscaya dia akan mati dalam keadaan miskin.

Barangsiapa yang tidak ridha dengan apa yang diberikan untuknya berarti telah mencacati Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ketetapan takdir-Nya.